ROKAN HULU – Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) BKKBN, Dr. Drs. Wahidin, M.Kes., memberikan pemaparan penting terkait pembangunan kependudukan, program Keluarga Berencana (KB), dan pembangunan keluarga dalam kegiatan intensifikasi pelayanan KB di wilayah khusus serta donor darah, Kamis (29/10/2026).
Kegiatan yang digelar di Convention Hall Islamic Center Rokan Hulu tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Rokan Hulu ke-27.
Hadir dalam kegiatan itu Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Riau Mhd. Irzal, SE, ME, Kepala Dinas KB Rokan Hulu Drg. Septian Asmarwiyati, M.Kes., Kepala Dinas DPMPD Prasetyo, serta sejumlah pejabat daerah, camat, Ketua TP PKK kecamatan, pasangan usia subur (PUS), penyuluh KB, koordinator KB kabupaten, dan masyarakat.
Dalam arahannya, Wahidin menjelaskan transformasi kelembagaan BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga dengan dua fokus utama, yakni pembangunan kependudukan dan pembangunan keluarga.
Menurutnya, salah satu program yang berkaitan langsung dengan pembangunan kependudukan adalah pelayanan Keluarga Berencana (KB), termasuk kegiatan yang dilaksanakan di Rokan Hulu tersebut.
Wahidin juga memaparkan indikator Total Fertility Rate (TFR), yakni rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan selama masa reproduksinya.
Ia menjelaskan, pada era 1970-an, rata-rata perempuan Indonesia memiliki lima hingga enam anak. Bahkan, berdasarkan data Provinsi Riau tahun 1971, angka TFR mencapai 5,9.
Namun, angka tersebut mengalami penurunan signifikan. Saat ini, TFR nasional berada di kisaran 2,12, sedangkan Provinsi Riau sekitar 2,2.
“Artinya, rata-rata keluarga saat ini memiliki dua sampai tiga anak, tetapi cenderung banyak yang dua,” jelas Wahidin.
Ia berharap pelayanan KB dan edukasi kepada masyarakat terus ditingkatkan agar keluarga semakin memahami pentingnya perencanaan keluarga dan pengaturan jarak kelahiran.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Rokan Hulu, dr. Yeni Dwi Putri, menegaskan pentingnya perencanaan keluarga, kesehatan ibu dan anak, serta pengaturan jarak kelahiran sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.
Dalam sambutannya, dr. Yeni mengungkapkan bahwa rendahnya pengetahuan pasangan usia subur dan orang tua mengenai program KB menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian dalam penanganan stunting.
Ia menceritakan pengalamannya saat membawa dokter spesialis anak langsung ke daerah dengan angka stunting tinggi. Dari kegiatan tersebut, ditemukan pentingnya peningkatan pengetahuan keluarga mengenai KB dan kesehatan anak.
Menurutnya, edukasi mengenai KB bukan hanya berkaitan dengan pengaturan jumlah dan jarak kelahiran, tetapi juga berperan dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.
“Saya mengajak seluruh kader TP PKK dan kader KB untuk terus membersamai masyarakat, memberikan edukasi, melakukan pendampingan, dan membantu menghubungkan keluarga dengan fasilitas pelayanan kesehatan,” ajaknya.
Melalui kegiatan intensifikasi pelayanan KB dan donor darah tersebut, BKKBN bersama Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu berharap kesadaran masyarakat terhadap perencanaan keluarga, kesehatan reproduksi, dan pencegahan stunting semakin meningkat.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan keluarga sehat dan berkualitas dalam momentum Hari Jadi Kabupaten Rokan Hulu ke-27.***(ADV/Diskominfo Rohul)
Sumber : Diskominfo Rokan Hulu













