Riau, DetakPatriaNews.com — Wakil Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia, Lia Latifah, bersama Wakil Ketua Umum Gerakan Masyarakat Peduli Perlindungan Anak (Germas PPA), Rika Parlina, S.H, menyampaikan keprihatinan mendalam atas dua kasus tragis perundungan (bullying) terhadap anak yang terjadi di Provinsi Riau.
Salah satu kasus terjadi di Kabupaten Indragiri Hulu, di mana seorang siswa sekolah dasar (SD) dilaporkan meninggal dunia akibat perundungan. Sementara itu, di Pekanbaru, seorang anak SD lainnya mengalami cacat fisik permanen setelah menjadi korban bullying oleh teman sekolahnya.
“Kami sangat bersedih dan prihatin. Ini adalah potret buram dunia pendidikan kita, ketika anak-anak justru menjadi korban kekerasan psikis maupun fisik di lingkungan sekolah mereka sendiri,” ujar Lia Latifah, Senin (23/6/2025).
Komnas Perlindungan Anak bersama Germas PPA menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah berhenti melakukan langkah preventif dan edukatif kepada masyarakat dan dunia pendidikan. Germas PPA juga secara aktif memberikan pendampingan hukum dan psikologis terhadap para korban bullying.
Tegaskan Pentingnya Pemahaman Hukum untuk Anak Usia 14 Tahun ke Atas
Dalam keterangannya, Lia Latifah juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dan sekolah untuk meningkatkan edukasi kepada anak-anak tentang konsekuensi hukum dari tindakan kekerasan atau bullying.
“Anak-anak usia 14 tahun ke atas harus memahami bahwa perbuatan mereka bisa dikenai sanksi pidana. Tidak boleh ada pembiaran lagi,” tegasnya.
Menurut Komnas PA, perundungan bukan hanya meninggalkan luka fisik, tapi juga trauma jangka panjang bagi korban, dan bahkan dampak buruk sosial terhadap pelaku itu sendiri.
Desakan kepada Kementerian Pendidikan untuk Bertindak Nyata
Lia Latifah menambahkan, pihaknya meminta kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia agar segera melakukan aksi konkret dalam mencegah dan menangani kasus perundungan, khususnya di lingkungan sekolah.
“Perlu ada sistem pengawasan, edukasi, dan penegakan aturan di sekolah-sekolah. Jangan tunggu sampai korban berikutnya jatuh,” ujarnya.
Keduanya berharap tidak ada lagi kejadian serupa menimpa anak-anak bangsa, serta meminta peran aktif semua pihak, orang tua, guru, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan ramah anak.***(Surya)












